PayTren Jadi Viral Usai Disebut Ustadz Yusuf Mansur

PayTren Ustadz Yusuf Mansur Viral  – Beberapa hari belakangan ini, nama Jam’an Nurchotib Mansur atau yang akrab disapa Ustadz Yusuf Mansur kembali menghebohkan jagad maya dengan videonya yang penuh amarah viral di media sosial seperti TikTok dan Twitter. Dalam video berdurasi 2 menit tersebut terlihat Yusuf Mansur menunjukkan mimik wajah yang emosi dengan intonasi nada tinggi, bahkan aksi gebrak meja pun ia lakukan.

PayTren Ustadz Yusuf Mansur

Namun, kabarnya video yang tengah viral tersebut adalah video lama. Bahkan video tersebut kabarnya sempat diunggah ke channel YouTube PayTren Official. Seperti diketahui bersama, saat ini tengah viral cuplikan video Yusuf Mansur yang sedang meluapkan emosinya sambil menyebut nama PayTren yang membutuhkan sejumlah dana untuk pengembangannya.

Menurutnya, ia membutuhkan dana hingga Rp 1 triliun untuk mengembangkan aplikasi tersebut. Selain itu, baru-baru ini juga angka tersebut direvisi menjadi Rp 200 triliun. Hingga akhirnya membuat PayTren jadi viral usai disebut oleh Ustadz Yusuf Mansur. Lantas, apa itu PayTren? Dan bagaimana perkembangannya saat ini?

Sekilas Tentang Paytren yang Tengah Viral

Nama PayTren kini sedang viral setelah Ustadz Yusuf Mansur marah sambil menyebutkan nama perusahaannya tersebut. Mungkin masih banyak orang yang masih belum mengenal PayTren.

Dikutip dari paytren.co.id, PayTren merupakan aplikasi keuangan atau pembayaran berbasis syariah yang dikembangkan oleh PT Veritra Sentosa Internasional. Perusahaan ini diketahui juga dikembangkan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Dalam aplikasi tersebut juga terdapat beberapa pembayaran yang bisa dilakukan, seperti pembayaran tagihan, pembelian pulsa, hingga pembayaran zakat bagi umat muslim.

Itu artinya para pengguna PayTren bukan hanya umat muslim saja, melainkan juga orang-orang non-muslim bisa menggunakannya. Kemudian sistem usaha PayTren pun dikembangkan kembali dengan pemasaran model kerja sama kemitraan lewat konsep jejaring dengan visi menjadi perusahaan penyedia layanan teknologi perantara transaksi skala nasional.

Baca juga:  7 Perbedaan BPR dan BPRS yang Wajib Anda Tahu!

Sedangkan misinya adalah mendorong masyarakat pemilik smartphone untuk meningkatkan fungsi smartphone dari hanya sekadar alat komunikasi menjadi alat bertransaksi dengan manfaat yang tidak akan didapatkan dari proses transaksi pada umumnya. Selain berfungsi sebagai layanan dompet digital, aplikasi ini juga bisa dijadikan sebagai media untuk berinvestasi dalam reksadana syariah.

Kinerja PayTren Kian Menurun, Ummat Kecewa

Ustadz Yusuf Mansur juga diketahui telah mendirikan sebuah perusahaan pengelola dana yang dikenal dengan nama PT PayTren Aset Manajemen (PAM). PAM sendiri hadir dengan mengusung prinsip investasi syariah pada 24 Oktober 2017. Dalam perusahaan tersebut Yusuf Mansur bertindak sebagai komisaris utama.

Sejak PAM secara aktif menghimpun dana masyarakat dan aktif memutarkan dana pada berbagai instrumen keuangan syariah. Aset kelolaan PAM pun berhasil tumbuh pesat dari Rp 1,95 miliar pada Februari 2018 mengalami peningkatan hampir Rp 34 miliar pada Oktober 2019. Akan tetapi, setelah itu, aset kelolaan reksadana PAM mengalami penurunan terutama pada produk Reksadana Syariah Saham Dana Falah (RDS FALAH) dan Reksadana Syariah Campuran Dana Daqu (RDS DAQU).

Kedua produk tersebut bahkan tidak memenuhi batas minimal dari ketentuan OJK untuk kelolaan minimal Rp 10 miliar. Karena mengalami kemerosotan, akhirnya pihak manajemen pun memutuskan untuk melikuidasi kedua produk reksadana PayTren tersebut dan mengembalikan dana kepada para investor.

Kinerja kedua produk reksadana PayTren yang telah dilikuidasi tersebut bahkan terlihat cukup memprihatinkan. Hal tersebut dikarenakan, RDS FALAH sendiri memiliki return yang merugi hampir 24% sejak diluncurkan pada 2 Februari 2018. Sedangkan pada reksadana campuran RDS DAQU, imbal hasilnya juga minus 8,3% sejak pertama kali diluncurkan.

Saat ini satu-satunya produk reksadana PAM yang tersisa adalah reksadana pasar uang, yakni PAM Syariah Likuid Dana Safa. Akan tetapi aset kelolaan produk ini sempat mencapai Rp 17,5 miliar pada Juli 2019 dan saat ini hanya tersisa Rp 1,5 miliar.

Baca juga:  Kredit Usaha Rakyat: Solusi Pengembangan Usaha Khusus UMKMK

Baca juga : Peluang Bisnis Paytren 2018 dan Kelebihannya

PAM Syariah Likuid Dana Safa adalah salah satu produk reksadana yang menawarkan risiko rendah dan ditempatkan pada instumen pasar uang syariah domestik. Produk reksadana satu ini sudah mencetak imbal hasil 1,5% dalam satu tahun terakhir, jauh lebih rendah dibandingkan dengan jenis investasi lainnya di aset rendah risiko yang mampu memberikan imbal hasil di atas 3%.

Selain kinerja dana aset kelolaan dari PAM yang kian lama kian memburuk, Ustadz Yusuf Mansur juga kini dilaporkan atas dugaan penipuan dan wanprestasi baik secara pidana maupun perdata. Ia yang gemar berdakwah tentang sedekah ini juga mendapatkan gugatan senilai Rp 98,7 triliun. Saat ini, Ustadz Yusuf Mansur juga telah mengumumkan akan menjual kepemilikan saham PAN kepada pihak lain juga menuai kehebohan.

Tak hanya itu saja, kini PayTren jadi viral usai disebut oleh Ustadz Yusuf Mansur dalam video emosionalnya. Rencana penjualan saham tersebut memang dilakukan untuk mencapai tujuan atau sesuai dengan visi-misi perusahaan.

Tags: PayTren jadi viral usai disebut oleh Ustadz Yusuf Mansur PayTren Ustadz Yusuf Mansur

Berikan komentar